Bisnis kuliner saya tumbang sebelum berkembang

Kenang-kenangan warung makan
Kenang-kenangan warung makan

Ini adalah sebuah cerita kelam tentang sebuah perjalanan mencari uang.

Ikhtiar menjemput rizki namun tanpa strategi, berharap jualan laku namun tanpa ilmu.

Tidak mudah memulai usaha sendiri, apalagi tanpa mentor yang mendampingi.

Niat baik tidak selamanya berakhir cantik, apalagi jika taktik kurang cerdik.

Semua bisa menjadi layu dan yang tersisa hanya harapan semu.

Sebelum mulai beraksi sebaiknya introspeksi, jangan mengandalkan asumsi apalagi emosi.

Rancang bisnis plan secara mapan, lakukan persiapan dengan matang.

Bisnis adalah hal baik, namun harus di eksekusi dengan apik.

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya memulai bisnis makanan.
Awalnya meneruskan usaha teman yang sudah jalan.

Bulan-bulan pertama lumayan asyik, pelanggan berdatangan, penjualan terus naik.

Namun cobaan datang di bulan selanjutnya, ada kompatitor dari gang sebelah yang merasa terusik.

Secara kebetulan, kompatitor ini punya akses khusus terhadap pemilik kontrakan.

Entah informasi ini valid atau hanya intrik, yang pasti dari pada berpolemik akhirnya saya memilih pergi dan mencari tempat pengganti.

Terlanjur berinvestasi dan mengambil tenaga kerja dari lingkungan keluarga sendiri, saya ga enak hati ini untuk berhenti.

Akhirnya mencoba peruntungan ditempat baru dan mulai merajut kesalahan demi kesalahan yang berujung kekalahan.

Saya catat beberapa kesalahan tersebut agar tak terulang dimasa depan.

1. Terlalu optimis

Melihat pengalaman dari penjualan sebelumnya yang lumayan bagus, saya terlalu optimis dan langsung memindahkan usaha ketempat lain tanpa riset khusus.

Padahal beda lokasi tentu berbeda juga preferensi.

2. Emosional dan terburu-buru

Beberapa karyawan terlalu baper (bawa perasaan) dengan kejadian sebelumnya.

Dan ke-baper-an ini mendorong saya untuk terburu-buru mencari tempat baru.

Mengambil keputusan disaat emosi tidaklah tepat
dan terbukti pemilihan tempat baru menjadi tidak akurat.
Akibatnya penjualan menjadi tidak sehat.

3. Mengandalkan asumsi tidak melakukan validasi

Produk makanan A memang laku ditempat sebelumnya, namun ternyata kurang ditempat baru.

Asumsi bahwa penjualan akan sama baiknya ternyata meleset, akhirnya terjadi penurunan omset.

Itulah akibat dari jual produk tanpa riset, asal aksi tanpa validasi. ,

4. Terlalu mengandalkan orang lain

Alasan sibuk dengan kegiatan, membuat saya terlalu mengandalkan karyawan.

Tanpa pantauan dan kendali cukup, bisnis bisa meredup.
Maka jangan heran jika kemudian tutup.

5. Perekrutan karyawan kurang profesional

Merekrut karyawan juga butuh keahlian, jangan asal-asalan kalau ga mau kewalahan.

Karyawan adalah orang yang membantu kita sukses.
Oleh sebab itu pemilihan karyawan haruslah tepat.

Hindari merekrut karyawan yang berpotensi membuat kita segan untuk menegur.

Apalagi merekrut karyawan yang tidak jujur, karena dapat membuat bisnis jadi tersungkur.

6. Sibuk dengan hal-hal yang tidak esensi

Begitulah jika bisnis tidak direncanakan dengan matang, semua keputusan jadi serba instan.

Sehingga banyak melakukan dan bahkan membeli hal-hal yang tidak relevan.

Tidak fokus terhadap tujuan dapat membuat bisnis bubar jalan.